Puisi 17
Lucu
Kau tatap aku nanar ...
Ujung jari dan rambutku sampai bergetar ...
ku sapa, tak kau jawab ...
Kau berlalu
Dengan apel itu ...
Meluncur di benakku
Kata itu
Lucu
Bibirmu cemberut
Wajahmu muram
Berkeringat
Dan tak sabar
Kau paksakan
Tapi tak kunjung tertelan
Melintas kata itu
di hatiku saat itu
Iba ...
Tiba giliranku
Penuh sukacita aku
Meski pahit
Meski rumit
Aku bahagia ...
Katamu kau rindu
Senyum itu
Terpaksa
Terlalu palsu
Menyembul kata itu
Di hatiku
Aduh ...
Kau tanyakan ini itu
Selalu ingin tahu
Apakah kata ini saat itu
Di hatiku
Iri ...
Biar belajar
Kau dan aku
Mecipta harmoni
Yang sebenarnya asing
Biar paham hatimu dan hatiku
Biar sempurna hidupmu dan hidupku
Saat mengerti
Saat memahami
Dan hilang kata itu
Lucu
Kau tatap aku nanar ...
Ujung jari dan rambutku sampai bergetar ...
ku sapa, tak kau jawab ...
Kau berlalu
Dengan apel itu ...
Meluncur di benakku
Kata itu
Lucu
Bibirmu cemberut
Wajahmu muram
Berkeringat
Dan tak sabar
Kau paksakan
Tapi tak kunjung tertelan
Melintas kata itu
di hatiku saat itu
Iba ...
Tiba giliranku
Penuh sukacita aku
Meski pahit
Meski rumit
Aku bahagia ...
Katamu kau rindu
Senyum itu
Terpaksa
Terlalu palsu
Menyembul kata itu
Di hatiku
Aduh ...
Kau tanyakan ini itu
Selalu ingin tahu
Apakah kata ini saat itu
Di hatiku
Iri ...
Biar belajar
Kau dan aku
Mecipta harmoni
Yang sebenarnya asing
Biar paham hatimu dan hatiku
Biar sempurna hidupmu dan hidupku
Saat mengerti
Saat memahami
Dan hilang kata itu
Lucu
Karitas I, 16 November 2010
Comments
Post a Comment