Posts

Showing posts from 2010

Puisi 33

For Christmas Should be there lights?  gifts? Christmas Tree? Sparkling? Always be? No ... Joyful is in hearts ... Joyful by doing ... Not extremely The outside looking ... I try to remember I try to memorize I try to keep by my heart That HE The One Who humble HIMSELF was born in bad, poor, smelly, cold, simple, dirty, place ... Does HE need lights? Does HE need gift? Does HE need glamorous, sparkling, tree? Does HE need joy? The angel even come ... to the shepherd ... Shepherd ... Wait, shepherd? So, what for Christmas?

Puisi 32

Terhenyak Benarkah? Dunia macam apa ini? Semua lama ... Bukan usang ... Tetapi tentang Kesetiaan Kesederhanaan Kepercayaan Kekeluargaan Wajar ... Ada luka Ada gesekan Ada benturan Bahkan pertentangan Tapi Tetap bertahan ... Untuk satu kata Mengabdi ... aku terhenyak. Di tengah pragmatisme Di derasnya materialisme Dalam pusaran hedonisme Masih ada sekelumit Ruang ... Dunia ... Untuk dedikasi Murni ... Tulus ... Apa adanya ... Sederhana, Semakin melekatkah Kata ini padaku?

Puisi 31

Bougenville A common word There was in a song A simple flower Or maybe someone will not surprise to see to smell But here It is a story It is a memory It is a dignity It was planted Not so long It grew faster By special hands With a special purpose To protect To decorate To purify Even to glorify One day It was moved By hearts That were willing to own Maybe envy It was allowed By trust By respect By hope It was fail They thought It was die They felt It was cut It was 'killed' By force It was to be Substituted with money But there were hearts With love With respect With honor of memory It was replanted By wish By prayer By dream It starts to grow Oh ... Watch out! Observe! I was speechless To see The power of Grace The touch of Love The pure of Hope and Dream Bougenville ... Now becomes The symbol of love of hope of grace of protection of purity of dream It is worthy

Puisi 30

Tidak Terlalu Cerdas Yakinkah? Apa tidak rugi ... Apa tidak sayang ... Kenapa? Mau dapat apa nanti? Apa tidak di sini saja ... Tidak terlalu cerdas ... Pertanyaanku, Mana lebih penting, Cerdas atau peduli? Bagaimana kalau cerdas, Tapi egois dan materialis? Akan lebih mudah yang mana untuk bekerja sama? Tidak terlalu cerdas, tapi peduli tapi baik murah hati, apa adanya ... Memang kadang agak kasar, Tapi masih punya hati ... Ada yang cerdas, Tapi ketus. Cerdas, tapi sombong. Cerdas, tapi meremehkan yang lain. Cerdas, tapi merasa segalanya. kujawab, saat ini aku butuhkan yang mau bekerja sama mau peduli dan punya hati ... Tak apa, tak terlalu cerdas ... Karena ini bukan tampilanku Tapi karya bersama ....

Puisi 29

Mengenang Romo Vranken, SCJ Romo, Terima kasih Romo beri kami kesempatan Untuk mengenal, Untuk dekat ... Pada kesederhanaan Pada kebersahajaan Masih teringat jelas ... Romo pilih kami Anak kampung, Anak desa, Untuk menemani Romo Kurbankan Misa Di tempat yang jauh ... Tatap mata nan lembut Senyum geli yang sabar Saat kami terbata Siapkan peralatan Misa Genggaman tangan hangat Raut wajah yang teduh Mata yang sejuk Saat kami mengaku dosa Ya, Romo ... Kesederhanaan dan kelembutan itu Yang termeterai Yang membekas dalam benak kami Anak kampung, anak desa yang lugu Terima kasih, Pada satu waktu Romo memilih kami Untuk rayakan ulang tahun Romo Puji Syukur, Rosario, Yang Romo bagikan Dalam permainan Masih tersimpan dengan rapi Berada dalam genggaman kami Sampai hari ini Ingatkah Romo Saat itu Kita tertawa Bercanda Bersama-sama Ingatkah Romo Kala itu Mobil kita tak bisa lewat Jalan basah sehabis hujan Jembatan hanyut Terbawa arus? Rom...

Puisi 28

Kamu Tak Ada Berdebar ... Gelisah ... Penat ... Berusaha gembira Karena ada gembiraku Ada mazmurku Aah, tidak enak Ada yang hilang Tidak lengkap Saat kau tak ada Rindu juga ... Kangen banget ... Pinginnya cepat bertemu Cepat ada lagi Sayang ... Tidak enak waktu kau tak ada Gembira tidak yakin Mazmur yang tidak fokus Sayang, Tidak enak waktu kau tak ada Mungkinkah? Ini tak terulang lagi? Bisakah, kau tetap ada Dengan bergembira Dengan bermazmur Sayang, Tidak enak waktu kau tak ada Jadi, Cepat pulang ...

Puisi 27

KATOLIK Artinya, Untuk siapa saja Terbuka Menyeluruh Tersebar ke seluruh dunia Tidak menunjuk sekelompok orang yang terbatas Berpusat pada Roh Allah Yang menggerakkannya Menyatukan Memberdayakan dan mengangkat harkat setiap manusia Pada nyatanya, aku berjalan dan mengenal Ayah Ibuku mengacunya pada kesederhanaan pada empati dan kebersatuan pada kerelaan Aha, Perjalanan memang mengasyikkan Pengalaman adalah luar biasa Pada saat ini Aku mengerti, Sulit untuk dihayati Bersamaan Melainkan sendiri Secara pribadi Dalam hati dan hidup sehari-hari

Puisi 26

Kaul Kemiskinan Terganggu ... Apakah perlu? Apa itu miskin? Yang benar saja ... Dinyatakan, Tapi tak dilakukan ... Kasihan ... Yang miskin Mereka sungguh-sungguh miskin Tanpa harus berkaul Miskin dalam arti yang sebenarnya Jarang makan Sering tidur Tak pegang uang, serupiah pun Mungkin tak berumah Tak pernah mandi Tak sempat pula Gosok gigi Tak bergizi Tapi sehat Tapi kuat Jangankan laptop, Jangankan handphone Atau I-Pad Jangankan sekolah Atau berobat ... Aah ... Mereka tak berkaul Mereka tak bersumpah Tapi sungguh-sungguh miskin Tak berada Tak berpunya Lalu, apa artinya? Miskin di hadapan Allah? Karena kataNya, Merekalah yang empunya Kerajaan Sorga Mereka yang miskin, Mereka yang berkaul miskin, Mereka yang memiskinkan diri, Mereka yang dimiskinkan, Atau mereka yang selalu membutuhkan Allah?

Puisi 25

Mazmurku Ya, benar Engkaulah mazmurku ... Engkau pujian Saat aku berbeban Sayangku, Permata hatiku ... Engkau syukurku Saat penderitaanku Ah, senyummu Manisku Engkau cahayaku Dalam gelap Engkau memancar Dan menggelorakanku Putus asa, Tak ada buatmu Terjanglah, Mulia, Kemapanan itu Hancurkan, Paduka Kesombongan itu Sembuhkan Yang luka hatinya Pulihkan Yang tercerai berai Yakinkan Yang hilang harapan Dalam Kuasa-Nya Ya, kekasih hatiku Bela yang tertindas Angkat yang terjatuh Junjung yang sederhana Panggul yang papa Dengarkan dalam doaku Resapkan dalam litaniku Hatimu Inderamu Tubuhmu Jiwamu Bahkan rohmu Menjadi mazmurku Mazmur Nusantara Pujian segenap makhluk Atas Kemuliaan-Nya Atas Campur Tangan-Nya Atas Kerelaan-Nya Atas Perkenanan-Nya Atas Cinta-Nya Pada yang papa yang menderita Bukan karenaku Wahai sayangku, Bukan karena kami Duhai buah hatiku Tapi karena-Nya Yang memilihmu ... Oh Mazmurku Mazmur orang benar Mazm...

Puisi 24

Gembiraku Tak usah pergi Di rumah saja Baik-baik dan tunggu ... Itu yang kau katakan Saat kubilang harus Kau berbisik Hancurkan saja Dibuang saja Aku mau bersamamu ... Ah, kau gembiraku ... Pujaan hatiku Sssshhhh Jangan menangis sayang, Saat aku bersedih Kau bergumam, Jangan bersedih Dan lihat Air matamu Juga menganak sungai Di kedua pipimu Sssssshhhh Jangan menangis sayang .... Ah, kau gembiraku Malaikatku Jantung hatiku ... Gemakanlah, Sayang, suaramu Pancarkanlah Cinta, sukacitamu Gembiramu Biar dunia lega Dan tak terbeban Karena kau tersenyum Karena murni hatimu Terpancar di senyummu Katamu Dan sikapmu Dan ya, Tak salah aku ... Mata itu ... Mata milikmu ... Berpendar ... Bersinar ... Bercahaya ... Menyejukkan Mendamaikan Jiwa dan roh yang gelisah Sentuhlah Mulia, Dunia Dengan kelembutanmu Sapalah Paduka Alam raya Dengan keceriaanmu Buatlah mereka segan Dengan keanggunanmu Agar mereka tahu Kasihlah Jawaban Aga...

Puisi 23

Kepada Sahabat Terima kasih Lihat, Telah sekian lama Tak terasa ... Kau ada saat aku perlu seorang Kau dengarkan keluh kesah Kisah Curahan Mimpi Makian Sakit hati Protes Syukur dari mulutku Kau hibur Saat aku menangis Kau beropini Saat tak ada harapan Semoga kau tak kecewa Semoga aku berlaku sama Seperti yang telah kau buat untukku ... Maaf, Seandainya mimpiku menjadi ilusimu sedihmu perih hatimu lukamu kecewamu atau pesimismu ... Tak ada maksud untuk itu. Terima kasih, Dengan sungguh kau perhatikan Dengan sungguh kau sertai kau ikuti langkah gelisahku Trima kasih Kau temani aku di kecewa dan ketakutanku Aku harap, dan berdoa Mimpimu Citamu Segera menjadi Hidupmu Sukacitamu Dalam kenyataan Indah dan abadi Di hatimu Kapada sahabat ...

Puisi 22

Bukan Cina Memang bukan ... Kenapa? Serasa mengenal saja ... Tak berduit Itu pasti Tak berkelompok Itu juga Tak berpengaruh Mungkin saja Tapi berhati Tapi peduli Rasanya Bukan etnis Tapi uang Di mana saja Katanya Membuat orang lebih berharga Lebih dipandang Tak takut aku Tak gentar aku Meski tampaknya tak berpengaruh Meski seolah tak bersuara Meski sepertinya tak bertaji Tapi masih ada Hati Moral Etika Harga diri Tentu saja Tak terbeli Dalam diam Berbisik Bisa saja diukur Bisa saja ditakar Tapi Tidak hakikat Tidak esensi Tidak pribadi

Puisi 21

Aneh Salah ... Kukira baik Kerjasama Alangkah indahnya Ada harmoni Menyatu ... Dari yang berseteru Dari yang bersaing Ternyata aku masih mimpi ... Bukan seindah itu Tapi untung sendiri Bawa alasan Bukan untuk kami Aneh ... Kenapa jadi bodoh? Lugu? Mati kutu aku Ceroboh Belagu Hi .... Terlalu Aneh ... Adakah senyum? Kurasa cemoohan ... Aneh ... Karitas I, 20 November 2010

Puisi 20

Uban Masih nyaman dengan rambut pendek Ringkas Ringan Praktis Sayang, Trima kasih kau ijinkan diriku Memangkas rambutku Sampai begini pendek Segar buatku Tapi ingatkah kau Saat kau belai ... Kau temukan sehelai Uban ... Hanya sehelai Hari itu Aku ingat Pasti bukan karena pigmen rambut yang berkurang Seperti Didik, senior saat SMP Atau Arum, teman sejawat SMA Uban, Dua helai ketika kau temukan lagi Dua hari yang lalu Apa rasamu Sayang? Ubanku, Sebelum aku 30 tahun Ah, Aku merasa nikmat Bukan takut tua ... Nikmat, Uban yang aku cabut dari kepala Ibuku Beberapa tahun lalu Sekarang muncul di kepalaku Sehelai Dua helai Tiga dan seterusnya Hanya doa Semoga lebih dewasa Lebih bijaksana Lebih matang Lebih kuat Lebih bergairah Dalam menjalani hidup Apa pendapatmu, Sayang? Karitas I, 18 November 2010

Puisi 19

Kau Lagi Asam Saat kau bicara Gaduh Saat kau tidur Kau lagi Bicara ke sana ke mari Tentang itu Tentang ini Ah, Bolehkah kusebut itu sesumbar? Habis .... aku pesimis Kau bawa padaku Gambarmu Waktu kau berdiri Di atas mimbar Parlente gayamu Aih ... Menonjol urat lehermu Merah padam wajahmu Ada apa? Pikirku Buat apa? Tanyaku Kau lagi ... Ah ternyata cuma segitu Habis ... Kau bilang jangan Tapi kau lari Kau berkoar tak ada solusi Aduh ... Seingatku aku sudah mengampuni Tapi hati ingin menulis lagi ... Kau lagi .... Jadi deh ... Sampai tujuh puluh kali tujuh kali   Karitas I, 16 November 2010

Puisi 18

Setali Tiga Uang Hening ... aku sadari sesuatu Ada yang sama Kau diam Tak banyak bicara Tak banyak menyapa Awalnya aku segan Sekarang aku tahu Ah ... Setali tiga uang Diammu Itu cemberut Diammu kayak kentut Tak ada suara Tapi bau Bau tak sedap Bau busuk Bah, semua kau diamkan Yang berbau aku Tak kau sentuh Tak kau tegur Selain aku sendiri Kandungku tidak Darahku tidak Rahim asalku pun tidak Apa maumu aku tidak tahu dan berniat tetap tidak tahu Tapi aku tahu Ada tahu di hatimu Biar saja sama Biar saja tak beda Biar saja setali tiga uang Kalau memang harus Sempat takut aku Kawatir aku Tapi biar saja aku bisa berujar apa urusanmu? aku peduli kandungku aku sayang darahku dan aku hormati rahim asalku setali tiga uang tak kan menghalangi bau kentut kuhapus hilang agar mereka tak usah merasa sakit hati apalagi kecewa karena ada kentut menyambut.... Karitas I, 16 November 2010

Puisi 17

Lucu Kau tatap aku nanar ... Ujung jari dan rambutku sampai bergetar ... ku sapa, tak kau jawab ... Kau berlalu Dengan apel itu ... Meluncur di benakku Kata itu Lucu Bibirmu cemberut Wajahmu muram Berkeringat Dan tak sabar Kau paksakan Tapi tak kunjung tertelan Melintas kata itu di hatiku saat itu Iba ... Tiba giliranku Penuh sukacita aku Meski pahit Meski rumit Aku bahagia ... Katamu kau rindu Senyum itu Terpaksa Terlalu palsu Menyembul kata itu Di hatiku Aduh ... Kau tanyakan ini itu Selalu ingin tahu Apakah kata ini saat itu Di hatiku Iri ... Biar belajar Kau dan aku Mecipta harmoni Yang sebenarnya asing Biar paham hatimu dan hatiku Biar sempurna hidupmu dan hidupku Saat mengerti Saat memahami Dan hilang kata itu Lucu Karitas I, 16 November 2010

Puisi 16

Ke Mana Saat Buntu Buntu ... Lagi. Apa maksud-MU? Misteri ini Tak kunjung berakhir. aku menerima aku mencinta tak dimengerti tak dipahami malahan sakit hati pergi saja pindah saja berlalu saja bawa hatimu bawa niatmu bawa pikirmu kau tak paham kau tak mengerti kau asyik sendiri aku buntu lagi berputar lagi berpikir lagi susah lagi buntu lagi kesekian kali Kata-MU Kau bahagia Kata-MU Kau bersukacita Kata-MU Kau berkenan apa kubuat? apa kukata? kemana dia? masih adakah tempat? adakah KAU di hatinya? singgahkah kami di pikirnya? Hanya KAU yang tahu Karitas I, 16 November 2010

Puisi 15

Apa Rasaku Apa rasaku? Pedih, di mataku Melihat air matamu Kudengar rintihanmu Gelombang air Menyapu hidupmu Apa rasaku Sakit, di hatiku Merasakan kehilanganmu Dingin Udara saat itu Sunyi Hari-harimu Bukan lagi air mata Tetapi darah Bukan lagi hati Tetapi jiwa Belum kering Basah Perih Terkena abu Apa rasaku Mulutku kering Dukaku Tak tersalur Larimu Terseok Yakinmu Teruji Abu Abu Abu Batu Batu Batu Panas Panas Panas Apa rasaku Apa dayaku Hanya isak Hanya doa untukmu Karitas I, 6 November 2010

Puisi 14

Dan Sekarang "Bapa leluhurmu yang pertama sudah berdosa, dan juru bicaramu telah memberontak terhadap AKU. Jadi AKU terpaksa menajiskan pemimpin-pemimpin tempat kudus, dan terpaksa menyerahkan Yakub untuk ditumpas, dan Israel untuk dinista." (Yesaya 43: 27-28) Keterpaksaan-MU Ya Tuhan, tangguhkanlah Keterpaksaan-MU Ya Tuhan, batalkanlah Murnikan kami anak cucu leluhur kami sucikan kami kerabat dekat moyang kami Keterpaksaan-MU Ya Tuhan, alihkanlah Keterpaksaan-Mu Ya Tuhan, hapuskanlah Kami tak sanggup menanggungnya Kami tak mampu memikulnya Bukankah telah KAU murnikan? Bukankah telah KAU tahirkan? Darah-MU sendiri? Air suci-MU sendiri? Cukupkanlah, ya Tuhan Tanggungan kami Bangkitkanlah, ya Tuhan Mulia-MU dalam diri kami Layakkanlah ya Tuhan Perjalanan baru kami Lupakanlah dosa leluhur kami Lenyapkanlah pemberontakan juru bicara kami Sucikanlah kembali pemimpin-pemimpin tempat kudus Pulihkanlah Yakub dalam genggaman-MU Bangkitkanla...

Puisi 13

Dengarlah Suaraku, Bacalah Risalahku aku memulainya dengan ini "Aku, Akulah DIA yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25) Maka dengarlah suaraku seperti aku berbicara padamu Bacalah risalahku seperti kutuliskan untukmu Saat itu engkau berhasil seperti yang kau mau menghancurkan aku saat itu engkau berlalu dengan katamu meremukkan tulangku katamu aku pemberontak katamu aku berhenti aku tak bermakna aku tak berguna katamu tak ada mufakat katamu kau terganggu katamu aku harus berlalu kau berhasil saat itu seperti yang kau mau menenggelamkan aku pada rongga penderitaan dalam ceruk ketidakpastian ... kau mampu saat itu mendorongku berenang dalam kolam kebencian seperti kendi yang hancur berantakan tak berbentuk tak berarti hatiku saat itu Sekarang dengarlah suaraku seperti aku bicara padamu bacalah risalahku seperti kutuliskan untukmu aku mengampunimu a...

Puisi 12

Tak Menyerah Sekali hentak aku roboh Sekali kebas aku rebah Sekali dorong aku jatuh Ya, aku lemah Namun Setelah roboh aku bangun Setelah rebah aku bangkit Setelah jatuh aku berdiri Sakit Memar Terluka Pulih Sembuh Terobati Tak menyerah aku perlahan bangun Tak menyerah aku berusaha bangkit Tak menyerah aku kembali berdiri Bukan karena kuatku Bukan karena gagahku Bukan karena mampuku Bukan karena talentaku Namun ada kasih karunia karena berkat Yang Kuasa karena Tuhan mau bekerja IA saja yang mulia Karitas I, 19 Oktober 2010

Puisi 11

Terjebak Antara setengah Tidak penuh Aku paksa masuk Dinaikkan Katanya tidak fokus Katanya asyik sendiri Tapi ada evaluasi Ada ulangan Ada pekerjaan rumah Rasanya aku terjebak Sulit keluar Awalnya alasan klasik Satu jalan Namun sekarang aku iba aku tak kuasa aku terluka hancur hatiku Harusnya bagaimana? Pindah? Keluar? Biaya? Tuhan, di puncak segala macam ENGKAU mengatasi segalanya Maka, aku berserah Pertumbuhannya di tangan-MU Perkembangannya di genggaman-MU ENGKAU Pemiliknya aku, KAU pilih untuk mencintai dan membimbingnya dan aku KAU mampukan 14 Oktober 2010

Puisi 10

Puisi Untuk Aji Menatap di kedalaman matamu Ada cinta Mengalir Ada rindu Mengikat Ada janji Menyirat Ada hasrat Merona Sayang, aku cinta kau aku mau terus bersamamu hingga Sang Khalik memanggil Kita bersama Senyum itu Ingin aku tidak ragu Ingin aku yakin Ingin aku mohon Selamanya Karitas I, 4 Oktober 2010 2.30 p.m

Puisi 9

Lari Sekali Lagi Aku pernah berlari Berlari menjauh, jauh sekali Saat bosan Saat jenuh Saat merasa tidak perlu lagi Lariku jauh Tidak cepat memang Perlahan tetapi pasti Pasti menjauh Aku temui banyak hal baru Saat aku tak dikenali Saat aku tak disadari Nikmat Menjadi diriku sendiri Sejuk, Keluar dari persepsi Kini, Rasa itu muncul lagi Penat Bosan Ingin tak dikenali Ingin dianggap tak berarti Haruskah aku lari? Lari sekali lagi? Atau aku tetap berdiri Membiarkan semua opini Memperpanjang daftar asumsi Mengepung Menghakimi Pada satu titik aku mengerti Cuma ada satu pribadi Tunggal Yang selalu mengerti, Memahami Karitas I : Senin, 20th September 2010 1.30

Puisi 8

Mengecup Ujung Jari Kaki-MU Oh nikmatnya Bersujud Oh leganya Menelungkup Mencium ujung jari kaki-MU Menggenggam tungkai-MU Membasuh kaki-MU dengan air mataku Oh nikmatnya Merasakan kedua tangan-MU Menjamah punggungku Mengelus kepalaku Nyamannya Tanpa suara Tanpa kata Hanya sentuhan Hanya air mata Hanya isak Hanya itu Dan ENGKAU tahu Dan ENGKAU maklum Betapa berat bebanku Betapa terlukanya aku Betapa sakitnya aku Betapa rindunya aku pada-MU Hanya itu Dan ENGKAU tahu Betapa ingin aku mengecup kedua telapak kaki-MU Menggenggam erat tungkai-MU Terisak dan menangis sejadinya aku Dan aku tahu penyertaan-MU Dan aku tahu kuasa-MU Memulihkan aku Home, 18 September 2010

Puisi 7

Artinya, ENGKAU Menghargaiku Menangis ... Lagi Sakit Hancur Sendirian Berjalan Melangkah Panjang Melawan arus Mengharap Tiba Membasuh muka dan tangan Telungkup Berlutut BAPA Aku menangis lagi TUHAN Berat sekali Hatiku sakit Di sini aku kembali merasakan Artinya Maknanya Aku berharga di hadapan-MU ENGKAU yang menghargai aku Panas Berurai air mata Di sini aku merasa berharga Di hadapan-MU Hanya di hadapan-MU Aku lelah Aku penat Aku lunglai Aku datang Berjumpa Dengan-MU Naikkan syukur Naikkan pujian untuk-MU Karena ENGKAU lebih dulu Menghargai aku Home, 18 September 2010

Puisi 6

A Friend I have a friend She is beautiful She is kind She is great One day she asked help One day she was worry Her parents planned Something she did not like They tried to arrange Someone by her side She was worry She was sad She was feel bad about that She asked my help To get her out of the trapped I said no worry, don't be so sad Her prince will come, not in bad But I asked God To hear her prayer A prayer of a friend that need a help God, please hear her prayer Grant her the best ... Home, 14 September 2010 12.25

Puisi 5

Silently Silently I asked ... Will it be okay? Am I able to do that? Am I capable to bear that? It's frightening ... This makes me worry ... But I am sure It is YOU that will work It is YOU that will enable me How hard it is ... How difficult ... How bad ... But YOU are the Greatest But YOU bless YOU accompany YOU support Silently I say I trust I believe in I do rely on YOU Home, 14th September 2010

Puisi 4

Hakikat-MU Aku mencoba Merasakan ENGKAU Kembali Memutar dan berbalik Lari Tersuruk Bangun dan lari lagi Cahaya yang menyinari itu Ada sumbernya Menggapai biasnya Serasa tidak mungkin Ada ujungnya Ada sumbernya Tapi jauh Namun terasa Tak mau aku panik Tak ingin aku takut Tak perlu aku cemas Karena aku tahu ENGKAU ada Akhirnya aku merasakan-MU Ada Bersamaku Mampukanku Pulihkanku Hanya ENGKAU Pedulikanku Hingga aku mampu Naik Mendaki Sampai akhirnya kembali Pada abadi Karitas I Selasa, 7 September 2010 12.50

Puisi 3

ENGKAU ADA Memancarkan kenangan TUHAN, Engkau ada saat itu Ketika aku berjalan tertatih Memanggul beban Di jalan yang terjal dan sunyi Berpeluh Terpelecok Sendirian ... ENGKAU ada Di antara pepohonan Bersama angin yang berhembus ENGKAU hadir menatapku Terengah aku Menghirup aroma-MU Segar ... Terdiam aku Lelah ... ENGKAU ada ... aku ingat ENGKAU hadir aku tahu Daun berbisik tertiup angin Mentari terobos celahnya aku haus Menelan ludah dan kembali melangkah Mendorong Tersenyum Berjalan Terus berjalan Ketika jalan menurun, aku tahan Sakit kakiku, Tapi aku tahu, aku hampir sampai Aku pulang Meletakkan beban Minum dan tersenyum Ya, ENGKAU ada saat itu Karitas I, 4 September 2010 10.50

Puisi 2

New Facing the new ... Meeting new people ... Touching new feeling ... Having a new routine ... I consider ... YOU provide everything new ... New day New life New morning New sun New moon New stars New time YOU even provide new spirit ... YOU touch new born ... O... the RENEWER ... The NEW MAKER ... Renew me again ... Reborn me again ... I am YOURS Like the soil on the Potter's hands It's me on YOUR Hands Be it on to me according to YOUR Words ... You have made everything new again ... Ready to be renewed? SBBS, 23rd April 2010

Puisi 1

Menyapa Hadirat-MU Sobat, jika aku mau KAU lebih dekat KAU memang dekat ... Yesus yang mengasihiku ... mengasihi kami ... Sekali lagi aku datang Menyapa hadirat-MU Ingin kusentuh jubah-MU mencium telapak kaki-MU aku merasa nyaman dengan itu ... Karena aku tunjukkan dan rasakan TUHAN, Kau ada untukku... untuk kami... Pada persimpangan ini, kulihat hadirat-MU kurasakan penyertaan-MU ... Engkau ada ... Untuk itu TUHAN, kembali kusapa hadirat-MU, mengharap belas kasih-MU untukku untuk kami YESUS, sekali lagi, kami mohon jawaban kusapa hadirat-MU untuk pasrahkan ketakutanku ketakutan kami kebingunganku kebingungan kami kusapa hadirat-MU karena ku tahu ENGKAU ada di situ kusapa hadirat-MU karena di situ kutemukan-MU yang selalu menerimaku menerima kami mengertiku mengerti kami kusapa hadirat-MU karena aku tahu ENGKAU pun merindukanku merindukan kami kusapa hadirat-MU SBBS, 20th March 2010

Akhirnya aku mulai

Namanya belajar, bisa di mana saja, katanya. Kapan saja....