Posts

Showing posts from November, 2010

Puisi 25

Mazmurku Ya, benar Engkaulah mazmurku ... Engkau pujian Saat aku berbeban Sayangku, Permata hatiku ... Engkau syukurku Saat penderitaanku Ah, senyummu Manisku Engkau cahayaku Dalam gelap Engkau memancar Dan menggelorakanku Putus asa, Tak ada buatmu Terjanglah, Mulia, Kemapanan itu Hancurkan, Paduka Kesombongan itu Sembuhkan Yang luka hatinya Pulihkan Yang tercerai berai Yakinkan Yang hilang harapan Dalam Kuasa-Nya Ya, kekasih hatiku Bela yang tertindas Angkat yang terjatuh Junjung yang sederhana Panggul yang papa Dengarkan dalam doaku Resapkan dalam litaniku Hatimu Inderamu Tubuhmu Jiwamu Bahkan rohmu Menjadi mazmurku Mazmur Nusantara Pujian segenap makhluk Atas Kemuliaan-Nya Atas Campur Tangan-Nya Atas Kerelaan-Nya Atas Perkenanan-Nya Atas Cinta-Nya Pada yang papa yang menderita Bukan karenaku Wahai sayangku, Bukan karena kami Duhai buah hatiku Tapi karena-Nya Yang memilihmu ... Oh Mazmurku Mazmur orang benar Mazm...

Puisi 24

Gembiraku Tak usah pergi Di rumah saja Baik-baik dan tunggu ... Itu yang kau katakan Saat kubilang harus Kau berbisik Hancurkan saja Dibuang saja Aku mau bersamamu ... Ah, kau gembiraku ... Pujaan hatiku Sssshhhh Jangan menangis sayang, Saat aku bersedih Kau bergumam, Jangan bersedih Dan lihat Air matamu Juga menganak sungai Di kedua pipimu Sssssshhhh Jangan menangis sayang .... Ah, kau gembiraku Malaikatku Jantung hatiku ... Gemakanlah, Sayang, suaramu Pancarkanlah Cinta, sukacitamu Gembiramu Biar dunia lega Dan tak terbeban Karena kau tersenyum Karena murni hatimu Terpancar di senyummu Katamu Dan sikapmu Dan ya, Tak salah aku ... Mata itu ... Mata milikmu ... Berpendar ... Bersinar ... Bercahaya ... Menyejukkan Mendamaikan Jiwa dan roh yang gelisah Sentuhlah Mulia, Dunia Dengan kelembutanmu Sapalah Paduka Alam raya Dengan keceriaanmu Buatlah mereka segan Dengan keanggunanmu Agar mereka tahu Kasihlah Jawaban Aga...

Puisi 23

Kepada Sahabat Terima kasih Lihat, Telah sekian lama Tak terasa ... Kau ada saat aku perlu seorang Kau dengarkan keluh kesah Kisah Curahan Mimpi Makian Sakit hati Protes Syukur dari mulutku Kau hibur Saat aku menangis Kau beropini Saat tak ada harapan Semoga kau tak kecewa Semoga aku berlaku sama Seperti yang telah kau buat untukku ... Maaf, Seandainya mimpiku menjadi ilusimu sedihmu perih hatimu lukamu kecewamu atau pesimismu ... Tak ada maksud untuk itu. Terima kasih, Dengan sungguh kau perhatikan Dengan sungguh kau sertai kau ikuti langkah gelisahku Trima kasih Kau temani aku di kecewa dan ketakutanku Aku harap, dan berdoa Mimpimu Citamu Segera menjadi Hidupmu Sukacitamu Dalam kenyataan Indah dan abadi Di hatimu Kapada sahabat ...

Puisi 22

Bukan Cina Memang bukan ... Kenapa? Serasa mengenal saja ... Tak berduit Itu pasti Tak berkelompok Itu juga Tak berpengaruh Mungkin saja Tapi berhati Tapi peduli Rasanya Bukan etnis Tapi uang Di mana saja Katanya Membuat orang lebih berharga Lebih dipandang Tak takut aku Tak gentar aku Meski tampaknya tak berpengaruh Meski seolah tak bersuara Meski sepertinya tak bertaji Tapi masih ada Hati Moral Etika Harga diri Tentu saja Tak terbeli Dalam diam Berbisik Bisa saja diukur Bisa saja ditakar Tapi Tidak hakikat Tidak esensi Tidak pribadi

Puisi 21

Aneh Salah ... Kukira baik Kerjasama Alangkah indahnya Ada harmoni Menyatu ... Dari yang berseteru Dari yang bersaing Ternyata aku masih mimpi ... Bukan seindah itu Tapi untung sendiri Bawa alasan Bukan untuk kami Aneh ... Kenapa jadi bodoh? Lugu? Mati kutu aku Ceroboh Belagu Hi .... Terlalu Aneh ... Adakah senyum? Kurasa cemoohan ... Aneh ... Karitas I, 20 November 2010

Puisi 20

Uban Masih nyaman dengan rambut pendek Ringkas Ringan Praktis Sayang, Trima kasih kau ijinkan diriku Memangkas rambutku Sampai begini pendek Segar buatku Tapi ingatkah kau Saat kau belai ... Kau temukan sehelai Uban ... Hanya sehelai Hari itu Aku ingat Pasti bukan karena pigmen rambut yang berkurang Seperti Didik, senior saat SMP Atau Arum, teman sejawat SMA Uban, Dua helai ketika kau temukan lagi Dua hari yang lalu Apa rasamu Sayang? Ubanku, Sebelum aku 30 tahun Ah, Aku merasa nikmat Bukan takut tua ... Nikmat, Uban yang aku cabut dari kepala Ibuku Beberapa tahun lalu Sekarang muncul di kepalaku Sehelai Dua helai Tiga dan seterusnya Hanya doa Semoga lebih dewasa Lebih bijaksana Lebih matang Lebih kuat Lebih bergairah Dalam menjalani hidup Apa pendapatmu, Sayang? Karitas I, 18 November 2010

Puisi 19

Kau Lagi Asam Saat kau bicara Gaduh Saat kau tidur Kau lagi Bicara ke sana ke mari Tentang itu Tentang ini Ah, Bolehkah kusebut itu sesumbar? Habis .... aku pesimis Kau bawa padaku Gambarmu Waktu kau berdiri Di atas mimbar Parlente gayamu Aih ... Menonjol urat lehermu Merah padam wajahmu Ada apa? Pikirku Buat apa? Tanyaku Kau lagi ... Ah ternyata cuma segitu Habis ... Kau bilang jangan Tapi kau lari Kau berkoar tak ada solusi Aduh ... Seingatku aku sudah mengampuni Tapi hati ingin menulis lagi ... Kau lagi .... Jadi deh ... Sampai tujuh puluh kali tujuh kali   Karitas I, 16 November 2010

Puisi 18

Setali Tiga Uang Hening ... aku sadari sesuatu Ada yang sama Kau diam Tak banyak bicara Tak banyak menyapa Awalnya aku segan Sekarang aku tahu Ah ... Setali tiga uang Diammu Itu cemberut Diammu kayak kentut Tak ada suara Tapi bau Bau tak sedap Bau busuk Bah, semua kau diamkan Yang berbau aku Tak kau sentuh Tak kau tegur Selain aku sendiri Kandungku tidak Darahku tidak Rahim asalku pun tidak Apa maumu aku tidak tahu dan berniat tetap tidak tahu Tapi aku tahu Ada tahu di hatimu Biar saja sama Biar saja tak beda Biar saja setali tiga uang Kalau memang harus Sempat takut aku Kawatir aku Tapi biar saja aku bisa berujar apa urusanmu? aku peduli kandungku aku sayang darahku dan aku hormati rahim asalku setali tiga uang tak kan menghalangi bau kentut kuhapus hilang agar mereka tak usah merasa sakit hati apalagi kecewa karena ada kentut menyambut.... Karitas I, 16 November 2010

Puisi 17

Lucu Kau tatap aku nanar ... Ujung jari dan rambutku sampai bergetar ... ku sapa, tak kau jawab ... Kau berlalu Dengan apel itu ... Meluncur di benakku Kata itu Lucu Bibirmu cemberut Wajahmu muram Berkeringat Dan tak sabar Kau paksakan Tapi tak kunjung tertelan Melintas kata itu di hatiku saat itu Iba ... Tiba giliranku Penuh sukacita aku Meski pahit Meski rumit Aku bahagia ... Katamu kau rindu Senyum itu Terpaksa Terlalu palsu Menyembul kata itu Di hatiku Aduh ... Kau tanyakan ini itu Selalu ingin tahu Apakah kata ini saat itu Di hatiku Iri ... Biar belajar Kau dan aku Mecipta harmoni Yang sebenarnya asing Biar paham hatimu dan hatiku Biar sempurna hidupmu dan hidupku Saat mengerti Saat memahami Dan hilang kata itu Lucu Karitas I, 16 November 2010

Puisi 16

Ke Mana Saat Buntu Buntu ... Lagi. Apa maksud-MU? Misteri ini Tak kunjung berakhir. aku menerima aku mencinta tak dimengerti tak dipahami malahan sakit hati pergi saja pindah saja berlalu saja bawa hatimu bawa niatmu bawa pikirmu kau tak paham kau tak mengerti kau asyik sendiri aku buntu lagi berputar lagi berpikir lagi susah lagi buntu lagi kesekian kali Kata-MU Kau bahagia Kata-MU Kau bersukacita Kata-MU Kau berkenan apa kubuat? apa kukata? kemana dia? masih adakah tempat? adakah KAU di hatinya? singgahkah kami di pikirnya? Hanya KAU yang tahu Karitas I, 16 November 2010

Puisi 15

Apa Rasaku Apa rasaku? Pedih, di mataku Melihat air matamu Kudengar rintihanmu Gelombang air Menyapu hidupmu Apa rasaku Sakit, di hatiku Merasakan kehilanganmu Dingin Udara saat itu Sunyi Hari-harimu Bukan lagi air mata Tetapi darah Bukan lagi hati Tetapi jiwa Belum kering Basah Perih Terkena abu Apa rasaku Mulutku kering Dukaku Tak tersalur Larimu Terseok Yakinmu Teruji Abu Abu Abu Batu Batu Batu Panas Panas Panas Apa rasaku Apa dayaku Hanya isak Hanya doa untukmu Karitas I, 6 November 2010

Puisi 14

Dan Sekarang "Bapa leluhurmu yang pertama sudah berdosa, dan juru bicaramu telah memberontak terhadap AKU. Jadi AKU terpaksa menajiskan pemimpin-pemimpin tempat kudus, dan terpaksa menyerahkan Yakub untuk ditumpas, dan Israel untuk dinista." (Yesaya 43: 27-28) Keterpaksaan-MU Ya Tuhan, tangguhkanlah Keterpaksaan-MU Ya Tuhan, batalkanlah Murnikan kami anak cucu leluhur kami sucikan kami kerabat dekat moyang kami Keterpaksaan-MU Ya Tuhan, alihkanlah Keterpaksaan-Mu Ya Tuhan, hapuskanlah Kami tak sanggup menanggungnya Kami tak mampu memikulnya Bukankah telah KAU murnikan? Bukankah telah KAU tahirkan? Darah-MU sendiri? Air suci-MU sendiri? Cukupkanlah, ya Tuhan Tanggungan kami Bangkitkanlah, ya Tuhan Mulia-MU dalam diri kami Layakkanlah ya Tuhan Perjalanan baru kami Lupakanlah dosa leluhur kami Lenyapkanlah pemberontakan juru bicara kami Sucikanlah kembali pemimpin-pemimpin tempat kudus Pulihkanlah Yakub dalam genggaman-MU Bangkitkanla...

Puisi 13

Dengarlah Suaraku, Bacalah Risalahku aku memulainya dengan ini "Aku, Akulah DIA yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25) Maka dengarlah suaraku seperti aku berbicara padamu Bacalah risalahku seperti kutuliskan untukmu Saat itu engkau berhasil seperti yang kau mau menghancurkan aku saat itu engkau berlalu dengan katamu meremukkan tulangku katamu aku pemberontak katamu aku berhenti aku tak bermakna aku tak berguna katamu tak ada mufakat katamu kau terganggu katamu aku harus berlalu kau berhasil saat itu seperti yang kau mau menenggelamkan aku pada rongga penderitaan dalam ceruk ketidakpastian ... kau mampu saat itu mendorongku berenang dalam kolam kebencian seperti kendi yang hancur berantakan tak berbentuk tak berarti hatiku saat itu Sekarang dengarlah suaraku seperti aku bicara padamu bacalah risalahku seperti kutuliskan untukmu aku mengampunimu a...

Puisi 12

Tak Menyerah Sekali hentak aku roboh Sekali kebas aku rebah Sekali dorong aku jatuh Ya, aku lemah Namun Setelah roboh aku bangun Setelah rebah aku bangkit Setelah jatuh aku berdiri Sakit Memar Terluka Pulih Sembuh Terobati Tak menyerah aku perlahan bangun Tak menyerah aku berusaha bangkit Tak menyerah aku kembali berdiri Bukan karena kuatku Bukan karena gagahku Bukan karena mampuku Bukan karena talentaku Namun ada kasih karunia karena berkat Yang Kuasa karena Tuhan mau bekerja IA saja yang mulia Karitas I, 19 Oktober 2010