Posts

Showing posts from 2016

Puisi 139

Desember Usai seuntaian doa Pada para leluhur pencipta masa Nenek moyang, pahlawan pada kalanya Doa ini tak berhenti Kenangan ini tak kan habis Dingin ... Mendung ... Gerimis ... Pertanda Desember Desemberku Desember kita ... Ada asa di sana Untuk berjumpa Bersua selaksa cinta ... Ah, pada Desember ini ... Sunyi bagiku ... Bisu ... Saat kelam menyergap ... Kalut ... Semoga aku mampu ... Tanpamu, Bapak ... Namun dengan doa darimu, Bapak ... Biarkan sedarah yang mencaci dan menghakimi ... Biarkan sunyi mengelana dalam sepi pikir dan hening diri ... Aku meretas ... Bola kabut di kepala ... Ingin tuntaskan segala ... Karya tak selesai terbengkalai ... Ini doa dan harapku ... MenjumpaiMu dalam kelemahan dan haru biruku ... Mendesak dahaga memelukmu dalam sekutu ...

Puisi 138

Kelana tak Bertepi Betapa fana ... Betapa rapuh ... Terjerembab pada pendapat sendiri Pikiran mengikat, mengelabui Mengalihkan segala daya Nalar dan nurani ... Betapa tersesat Mengikuti tanpa kendali Tiga puluh enam Semestinya bijak dan rendah hati Murni dan tak ternodai Tak hendak terdustai Aku mengharap tak terperi Pada hati dan naluri Pada malam hening ini Aku menepi Aku mencari Gusti Tak hendak menyerah pada ini Kelana tak bertepi

Puisi 137

Mata Menatap padanya seolah membaca Kedalaman insan Pada mata saat pertama Tak terucap makna Tersirat pranala Pada mata kali ini, Aku terpana Peta perjalanan tak terucap Namun terpancar seolah bersamudera Aku membaca Keringat Darah dan Air mata Kasih Marah Mimpi Ada hangat di sana  Mata ini menangkapku Jalinan masa lalu dan masa depan Ah, aku berdoa Semoga bukan kelana dan putus asa Ada di sana Meski kata bersuara Kerap keras dan mendera Meski kata berirama Tak hendak didengar telinga Namun mata ada di sana Lingkaran retina, kornea, lensa, iris dan pupilnya Tak sanggup berdusta Kedua mata yang sejenak menatap itu Harapku tak hendak lagi kujumpa .... Hanya doa, ya, hanya doa ...

Puisi 136

Jalan Sunyiku (Bahagia kuterikat pada YAHWE, harapanku pada Allah Tuhanku) Debur menderu di jantungku Desah lelah di nafasku Perlahan seolah berhenti Dalam diam kujemput, jalan sunyiku Segala daya Segenap rupa raga dan tenaga Telah jauh membumbungku pada hening ini Aku berhenti Air mata yang meleleh, tak lagi bermakna sama Keringat yang mengalir, mendamba asa yang berbeda Kusam masai kulit dan rambut ini, merindu pada jiwa Jiwa tak berjelaga, tulus dengan bening cahaya Pada jalan sunyiku Jalan naik, berkelok dan menikung ini  aku mengapung layaknya sehelai daun hanyut melarut pada arus sungai layaknya pada malam, ketika nurani mengajarku Hening ini memelukku Pada jalan sunyiku Welas, asih, luka, harapan dan cinta Menderapku pada KerahimanMu ENGKAU sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Pada jalan sunyiku, aku kembali menjumpaimu ... Belas kasih dan cintamu, menghantarku pada jalan sunyiku ....

Puisi 135

The Road This far already ... The up, the down Being blind but I see The road is not mine but HIS I just go through it With faith and hope Getting lost but sure to be back on the right track again It is Your Hands leading It is Your Vision driving ... I surrender but not giving up Your Plan is not my plan ... The Road I am going through With Your hands on mine Amen ... It is Imanuel

Puisi 134

An End With the wish that all would be done very well No space on the corner all occupied with those deadlines Grabbing Pounding those things in the working mind The tired eyes Need to be opened I realize these would come to an end Hope I rule the deeadlines not them ruled me Whispering in the dark that you stay there with a smile azures me that these would come to an end These too should pass All done well with your prayer and words come true as a blend