Posts

Showing posts from February, 2011

Puisi 48

Mistery He chose to be Poor Small Beautiful Famous Meaningful Powerful Creative Adored Ignored Hated Full of love Humble not to be proud of

Puisi 47

To be Proud of It is easy ... When Rich Beautiful Big Famous Meaningful Creative Adored But hard ... If Poor Ugly Small Infamous Ignored Uncreative Hated It is not right To be too proud of Since It is not me that worked It is HE in me.

Puisi 46

Tepekur Di sinilah aku Kembali tepekur Berjuang untuk berpegang Pada janji-janji-Mu Bertanya aku pada malam Temankah? Sahabatkah? Anakkah? Hambakah? aku bagi-Mu. Tak menentu. Kau tahu, bukan untukku. Tak kumiliki Buat dia. Bagi mereka. Air mata kembali terbit Buram Menatapku. Ke manakah lagi akan Kau bawa aku ini. atau aku sendirilah membawaku jauh Sakit, lagi Menyadari kehilangan Bersama tiga hati Dua hati begitu peduli Menjadi penopang Saat sendiri Yang terakhir tak kumengerti tak kupahami Kecupan itu Pelukan itu Belaian itu Sadarkan aku tak sendiri Ke mana lagi? Untuk siapa lagi? Perih? Tapi berseri Tetap mensyukuri Biar muda Bahkan belia Umpama benih yang baru tumbuh namun justru kekuatan bahkan penghiburan yang kudapatkan merekalah gembiraku merekalah mazmurku

Puisi 45

No Words There were no words, But a big hug, The tears A deep kiss The touch By my Psalm By my Joy When I was alone Cried Sad Thanks for no words but the meaningful action

Puisi 44

Arine Sayang, Selamat jalan ... Kami berharap, Sekaligus yakin Ini yang terbaik Tak akan kudengar Lagi Merdu suaramu Bernyanyi Atau Pintamu halus Ingin tinggal bersama kami Arine Biar kau kembali Menjadi milik Ilahi Darimu Kami belajar Berhati-hati Dan sungguh-sungguh Mencintai Apalagi peduli Semoga Kami direstui

Puisi 43

Sixth Period I have Learned First, to manage to have integrity Second, to listen to choose Third, to talk to be fair Fourth to be cheerful to give thanks Fifth to lead to be consistent Sixth to be wise to be obedience I am still learning to love to forgive to forget to move forward to surrender and to live

Puisi 42

Tak Berasa Terdengar lagi Bicarakan lagi Disumpahi lagi Tapi, Tak berasa aku diam Tak tahu ku pilih diam dan acuh Dulu, Terasa sakit sempat, perih sayang Kemarin Tak berasa Lewat Hambar Tawar aku tersenyum sungguhkah hanya begini? akhirnya? sumpah, tak berasa

Puisi 41

Kamis 3 Februari 2011 Ke mana kita? Ayo makan bakso bakar? Ah, tidak, lebih baik kita nyekar Rindu dalam yang kian bergetar. Dan, Berangkatlah Berlima Empat nyawa pada si merah yang setia Yakin aku, Objek menarik wisatawan penggemar foto Cerminan sepeda motor di Indonesia (gila, sampai hari ini, mereka menunggu 5-6 nyawa sekaligus) Jalanan sepi Serasa milik sendiri Persis seperti saat Idul Fitri Apalagi karena masih pagi Berayun kita di perahu Nahkoda muda penuh bertato Ia tawarkan Lima ribu Terhanyut kita Dalam rindu Mengalun doa Dalam syahdu Tiga keluarga Berenang Setelah lompat dari perahu Kulit coklat mengkilap setelah lompat dari perahu Apa dicari? Kerang dengan kaki Mereka gembira Mereka tertawa Mereka bilang Saat ke tepi, Baju kita pasti sudah kering (aku yakin, mereka tak pusing dengan ruang ganti atau air tawar pembasuh asin) Kita pulang Dua jam kemudian Aduhai tak seperti tadi Jalanan ramai, penuh antri Sepanjang jalan Tak ...