Posts

Showing posts from 2011

Puisi 72

Tired It's like a little green frog. Little green frog Little green frog Jump up Jump up From one leaf to other From one stone to other Begin again Start to love again How much love do I have? Since I have a limited love Where should I put it? That it's always new Everything How tiring

Puisi 71

Great Lost I don't know you Just heard Just saw Just read Even, I could not use yours All those great inventions But, feel this. When you leaved My tears fell down I cried silently What a great lost I will really miss that smile The wise and sharp eyes The humble words The simple appearance The wrong denial Overall, how beautiful He has put you Here on earth. Thank you, Steve for a wonderful Jobs

Puisi 70

BURNT Beating Conscious Curious I was burnt Impassioned Deliberate Nervous I was burnt Whisper Smooth Untouchable I was burnt Burning on the fire of life Suffering and desire I was burnt to be always sunk with You

Puisi 69

Ceruk Lalu lalang Suara suara terbang Bising Lalu bimbang Ah kuperlukan kutemukan Ceruk Untuk bersitenang Masuki kesejukan kutendang kelepak riang Bisu Meregang sunyi dalam diam Ceruk Celah pelepasan Mahkota kedamaian Meliuk kepastian Keyakinan Saat perjumpaan Pada kekekalan Saat sukacita tumpah ruah Cinta tercurah melimpah Ceruk Saksi kesejatian Sembunyian Selipan dalam Kuasai tentram Menopang keheningan Dalam ceruk pemulihan

Puisi 68

Terbatas Pilihan aku memilah aku memutuskan aku menanyakan Perjalanan berliku berkelok bermisteri aku cuma punya cinta iman dan pengharapan cinta yang terbatas karena ketika ditolak akan undur meskipun tak luntur cinta yang terbatas yang tidak mampu menembus kemarahan irihati kesombongan cinta yang terbatas meski lahir dari hati yang marah iri dan sombong

Puisi 67

Tak Beda Berulang lagi Kelompok yang sama Situasi yang nyaris tak beda Mengabdi Untuk siapa Pada siapa Karena siapa Rindu Memberi jeda Yang berbeda Yang tidak bisa Tanpa kesempatan Tiada berpengharapan Hilang kemampuan Oh ... Mampukah Terwujudkah Tunas tunas masa depan Benih benih kehidupan Buah buah perjalanan Menemukan tambatan dan pegangan

Puisi 66

White and Blue White and blue There were me and you White and blue It was so true There was pink Between white and blue There was green Among white and blue The pink was yours When white and blue The green was mine When white and blue White and blue I remember you White and blue The smile was a virtue How pure It was in white and blue How beautiful It was our white and blue

Puisi 65

Manipulate Say this Hear this Listen this Understand this No black No white Just the utterance Do you know? I felt Manipulate You manipulate I manipulate It was not clear I felt Manipulate Who? Subject Object But there is Manipulate

Puisi 64

None I empty my mind I let it flow Blur With no burden Choices are everywhere But I want to know What You choose for me Really I feel I have gone away Far from You I worked alone Without involving You I need to feel You I need to hear You I need to experience You Again and more I am tired With those choices I need to meet Your Passion I need to sink and connect with You Really I do need You I do rely on You It is overwhelming To feel You accompany me and release me There is none None, no one but You

Puisi 63

Beautiful Creatures Roy Jechoniah Franky Sahilatua Dewa Budjana Sophan Sophiaan Widyawati Mangunwijaya Gus Dur Kartini Sri Mulyani Indrawati Carol Wojtyla Jon Bon Jovi Eric Clapton Bruce Willis Meryl Streep God, thank You to create Those beautiful creatures. Give me a humble and wise heart To pass through my way You have prepared to be a beautiful creature. As You meant When You first created me.

Puisi 62

Confession Look at my heart, O Lord. How cruel it is. A slight of jealousy. A piece of misunderstanding. How Great You are, O Lord. That You love both the kind and the cruel. How You give the same chance. But at a point, there will be no turning point. At this time, You don't allow me again, To be to proud of myself, but of You, O My Lord. Take care of my heart, O Lord. Change my heart, O Lord To be more like You.

Puisi 61

TWICE It was not once It was not three times But it was twice You wondered I wondered You smiled I smiled You are right, sweetheart We did it twice

Puisi 60

Amin Iman Amin Amin Amin Siuman Amin Amin Amin Loman Amin Amin Amin Rahman Amin Amin Amin Rahim Amin Amin Amin Sesah Amin Amin Amin Ya Kasih Amin Ya Amin Amin Ya Tulus Ya Amin Amin

Puisi 59

Fake It's fake The uttered words The existed smile The visible actions It's fake It tortured It hurts My self It seems all fake It drawn me Deeper To the emptiness Where is the faith Where is the love Where is the hope They are seemed gone Away Leave me Alone With this fake

Puisi 58

TRUST How to measure? It took three years Between you and me But now, it has been Twelve years after Was there TRUST? How to prove? Three years we were together Physically or could be emotionally Twelve years we were separated Or just say no touch at all Was there TRUST? How to describe? After the long journey Maybe still emotionally Then you came Asked me this TRUST? Oh, dear You put me in trouble Doubtful Yes I am But I won't blame you When you are angry to me So by myself either, I look for the TRUST you have asked for

Puisi 57

30 Years The mystery Is still mystery It has not been cleared Nor seen I wonder How did You know How did it sound In Your Heart Did You realize it, From the beginning? Did You feel it, since at the first time? I know we are different I am not You and You are not me I wonder How to find How to catch How to determine How to put into real Your Passion so that will be mine Your Passion to surrender Your Passion to submit Your Passion to sacrifice Your Passion to love us

Puisi 56

Sayang Senyum dan harapan Semangat dalam perjuangan Kau sematkan pagi ini, Sayang Pada hati melayang Penghargaan dan penghormatan Tabik dan sentuhan Merayap dalam angan-angan Kau selipkan pagi ini, Sayang Harapan kita naikkan Pujian kita lambungkan Harmoni berpelukan Meraih kedamaian aku diyakinkan aku diberadakan Tajam mimpi Asa nyata beralih Ijinkan aku berdiam Pada relung dekapan Sejuk napas dan detakan Irama yang kau lagukan Ijinkan aku tenggelam Larut dalam buaian Berayun dalam dendang Meraih kemurnian dan kesempurnaan Saat meneduhkan Menikmati keberadaan Dirimu yang menenangkan

Puisi 55

Firasat Meremang Tanya mengundang aku terpesona sekaligus meradang Apa gerangan Menghentikan dendang Hening Tenang dan merasakan Ada kehadiran Menyanjung rahmat dan pujian Meresap Menghantam keyakinan Terdiam Menembus kerahiman aku tersungkur Menghiba belas kasihan Perlahan Dalam kepastian Menyongsong kedalaman Anugerah dan pengharapan

Puisi 54

Rehat Jalan panjang dan berliku Terjal dan menanjak Menurun dan berbatu Bersama-Mu aku terus beranjak Menyerah aku tak mampu Berhenti bukan karena ragu Sadar berjibaku Butuh bahu membahu Bukankah harmoni indah pada lagu Karena meleburnya menyatu? Tidak semata karena suara baru Tetapi irama yang padu

Puisi 53

Semu Tersenyum, Mengangguk, Menyapa, Setuju ... Tetapi menuding Berprasangka Menuduh Tidak patuh Kalau hanya semu Apalagi palsu Ah, tentu tidak ada gunanya Hilang maknanya Hanya hati tulus Beserta kepekaan Ditemani ketangguhan Dapat meraba Merasa Sekaligus maklum dan mengampuni

Puisi 52

Mengambang Pilihan-pilihan membentang Menyeruak bimbang Tiada bersentuh terang Rasakan luka sembuh tak meradang Ah, inginku sejenak mengambang Acuhkan ragu merindang Pasrah terlentang Ikuti arus bergelombang Menatap bintang Atau terpejam menepis rangsang Mengambang Mengharap bunyi genderang Bukan pertanda perang Namun harmoni diiringi gendang Meresap menjadi simbol benderang Arah tujuan asa baru menjelang

Puisi 51

Satu Ciuman Garis wajah penuh pertanyaan Seolah temukan hal-hal baru Kata - kata bertebaran Melucu ingin mendapatkan sekutu Sentuhan, Sesekali... Bukan dengan kulitmu Tapi dari bola mata yang menatap kuyu Pertanyaan - pertanyaan aneh Kalimat - kalimat tak biasa Mengudara Memenuhi jagat khayal hati bimbang Senyum penuh arti Diam yang dimengerti Perjumpaan yang salah Di waktu yang terlalu cepat Alur cerita menentukan jalannya Bukan untuk mewujud nyata Namun doa sudah terjawab Meletuskan sebuah akibat Kenangan tertinggal Dengan aura yang pasti dan benar Tapi tidak terpenuhi Alangkah berkesan Satu sentuhan mampu mengurai Satu tatapan mengungkap keluh kesah terdalam Dalam senyum Tersirat satu ciuman Sebuah ciuman pengertian bukan pengkhianatan Satu ciuman pembuktian Kelebatan perasaan yang tidak keliru Bukan untuk kasat mata Hanya sebagai sebuah lukisan Getaran tenggang rasa Mengunggah kecintaan dan kekaguman Yang tepat pada tempatnya Bukan pa...

Puisi 50

Haus Ramai sekali Bising, Suara suara berbaur Melebur Panas sekali Urat nadi menonjol Sumpah serapah tak terkendali Amarah tak terkontrol aku tersendat serasa tak berdaulat apa lagi kan ku beri apa lagi kan ku bagi Percaya Mengalir dengan lembut Tanggung jawab pun tak bertelut aku menerima dengan tanda tanya satu hal aku sadari aku tenggelam dalam dahaga aku haus kosong tak berisi bisu tak berbunyi kelu lidah kaku tak mampu menari aku haus merindu sapa ilmu aku haus mengharap lembar baru di mana air penyejuk di mana sumber peneguk menyiram urat melepuh meredam akar berpeluh kurasakan medan berpendar kudapatkan buah kehidupan bukan ruangan tapi semesta penuh perjanjian

Puisi 49

Extraordinary Tied It is extraordinary It is not about us only It is about others also There were two between us Dreamed It is extraordinary Have to dream About others Together It is extraordinary Must include Someone else Build It is extraordinary Not only on us Numbers They are extraordinary  29.30.31 22.12.06 07.08.09.10 Oh Dear What an extra extra extra extra extraordinary journey of our lives

Puisi 48

Mistery He chose to be Poor Small Beautiful Famous Meaningful Powerful Creative Adored Ignored Hated Full of love Humble not to be proud of

Puisi 47

To be Proud of It is easy ... When Rich Beautiful Big Famous Meaningful Creative Adored But hard ... If Poor Ugly Small Infamous Ignored Uncreative Hated It is not right To be too proud of Since It is not me that worked It is HE in me.

Puisi 46

Tepekur Di sinilah aku Kembali tepekur Berjuang untuk berpegang Pada janji-janji-Mu Bertanya aku pada malam Temankah? Sahabatkah? Anakkah? Hambakah? aku bagi-Mu. Tak menentu. Kau tahu, bukan untukku. Tak kumiliki Buat dia. Bagi mereka. Air mata kembali terbit Buram Menatapku. Ke manakah lagi akan Kau bawa aku ini. atau aku sendirilah membawaku jauh Sakit, lagi Menyadari kehilangan Bersama tiga hati Dua hati begitu peduli Menjadi penopang Saat sendiri Yang terakhir tak kumengerti tak kupahami Kecupan itu Pelukan itu Belaian itu Sadarkan aku tak sendiri Ke mana lagi? Untuk siapa lagi? Perih? Tapi berseri Tetap mensyukuri Biar muda Bahkan belia Umpama benih yang baru tumbuh namun justru kekuatan bahkan penghiburan yang kudapatkan merekalah gembiraku merekalah mazmurku

Puisi 45

No Words There were no words, But a big hug, The tears A deep kiss The touch By my Psalm By my Joy When I was alone Cried Sad Thanks for no words but the meaningful action

Puisi 44

Arine Sayang, Selamat jalan ... Kami berharap, Sekaligus yakin Ini yang terbaik Tak akan kudengar Lagi Merdu suaramu Bernyanyi Atau Pintamu halus Ingin tinggal bersama kami Arine Biar kau kembali Menjadi milik Ilahi Darimu Kami belajar Berhati-hati Dan sungguh-sungguh Mencintai Apalagi peduli Semoga Kami direstui

Puisi 43

Sixth Period I have Learned First, to manage to have integrity Second, to listen to choose Third, to talk to be fair Fourth to be cheerful to give thanks Fifth to lead to be consistent Sixth to be wise to be obedience I am still learning to love to forgive to forget to move forward to surrender and to live

Puisi 42

Tak Berasa Terdengar lagi Bicarakan lagi Disumpahi lagi Tapi, Tak berasa aku diam Tak tahu ku pilih diam dan acuh Dulu, Terasa sakit sempat, perih sayang Kemarin Tak berasa Lewat Hambar Tawar aku tersenyum sungguhkah hanya begini? akhirnya? sumpah, tak berasa

Puisi 41

Kamis 3 Februari 2011 Ke mana kita? Ayo makan bakso bakar? Ah, tidak, lebih baik kita nyekar Rindu dalam yang kian bergetar. Dan, Berangkatlah Berlima Empat nyawa pada si merah yang setia Yakin aku, Objek menarik wisatawan penggemar foto Cerminan sepeda motor di Indonesia (gila, sampai hari ini, mereka menunggu 5-6 nyawa sekaligus) Jalanan sepi Serasa milik sendiri Persis seperti saat Idul Fitri Apalagi karena masih pagi Berayun kita di perahu Nahkoda muda penuh bertato Ia tawarkan Lima ribu Terhanyut kita Dalam rindu Mengalun doa Dalam syahdu Tiga keluarga Berenang Setelah lompat dari perahu Kulit coklat mengkilap setelah lompat dari perahu Apa dicari? Kerang dengan kaki Mereka gembira Mereka tertawa Mereka bilang Saat ke tepi, Baju kita pasti sudah kering (aku yakin, mereka tak pusing dengan ruang ganti atau air tawar pembasuh asin) Kita pulang Dua jam kemudian Aduhai tak seperti tadi Jalanan ramai, penuh antri Sepanjang jalan Tak ...

Puisi 40

No Formula Not confuse, Just doubt. Will we? I do this You do this You do that I do that Sure, there is no formula I learn You learn You do I do There is faith There is belief It is not us What we do is just to love Do best and surrender but I wonder since there is no formula

Puisi 39

Zefanya 3:16-20 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. Tuhan Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak sorai seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak menanggung cela. Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi. Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka," firman Tuhan.

Puisi 38

Berharga aku resah Teringat seseorang Padahal Menurutku Sudah beres Mengampuni Semoga tidak celaka Pasti aku tidak rela tapi seperti ada yang keliru Jika tidak terjadi apa-apa aku gelisah untuk memilah harapku baik-baik saja Lalu ada ini kata-kata penindasku siapa? Allahku yang akan bersorak-sorai Wow hanya karena aku berharga Tuhanku yang akan bertindak terhadap segala penindasku Aduh, Lebih baik kuhapus penindasku Bapaku yang akan mengangkat malapetaka daripadaku sehingga oleh karenanya aku tidak lagi menanggung cela Tuhan, Engkau Allah yang peduli tetapi Siapakah aku? Sehingga berharga di hadapan-Mu? Siapakah aku? Sehingga Engkau peduli? Berharga Mulia Sempurna Bukankah itu milik-MU Semata?

Puisi 37

Berserah Berapa kali? Berkali-kali Banyak kali Hampir selalu Setelah berlari Ke sana ke mari Setelah menerjang Ke sana ke sini Berupaya Berusaha Sekuat tenaga Pada akhirnya Berserah Pasrah akan hasilnya Bukan keputusan pribadi Betapa besar Betapa lega Saat berserah Apakah itu menghindar? Apakah itu ingkar? Pada akhirnya Berserah Pasrah Pada Keilahian Pada Keniscayaan

Puisi 36

BAU Sedap? Busuk? Wangi? Apek? Bau apa? Kau suka ku suka Tentu tak sama Tapi mungkin Kau suka ku suka Bau yang sama Ah Bau itu Bisa bahaya Karena sakit Karena luka Atau bau juga Padamkan selera Selera apa? Apalah kau suka Kau suka ku suka Mungkin bau yang sama Apalah bau Masak mau menghapus cinta? Ah, ternyata kadang cinta itu tak buta.

Puisi 35

My Prayer Here I come In front of Your Presence Lord, My Father I pray today I pray For all teachers All students For the school Lord, My Father For their future I pray, Please again, Bless them Take care of them Protect them and guide them for the best future To walk on Your Plan Thanks, Dear Father You give them chance opportunity a beautiful journey Lord God The Father I believe and surrender It is on Your Plan already So, be it unto us According to Your Words Amen

Puisi 34

Paisah Dia adalah Ibu dari teman kecilku Dia adalah Ibu yang tangguh Dia adalah Ibu yang berdaya Di mataku dia cantik Dia selalu tersenyum dengan tulus Buatku Dia manis Kata berbumbu tawa Yang selalu kudengar saat dia bicara Lihat, Seluruh anggota tubuhnya bergoyang Saat dia berjalan Badannya yang besar Semakin tampak kokoh Saat menuju ke pasar Menyunggi barang dagangan Dan senyum itu Tak pernah tanggal dari wajahnya Paisah, Perempuan sederhana penuh perjuangan Terbayang Berapa waktu silam Dia tegar Saat suaminya ditemukan Gantung diri di dekat kuburan Sebelum itu Dia tabah, Sabar, Tidak protes ketika suaminya menjadi paranoid ketakutan minta ditemani ke mana pun pergi bahkan saat ke kamar mandi Paisah tidak bingung. Tetap tersenyum Pun ketika ia ditinggal mati .. Kata orang Suaminya telah melihat orang "dipetrus" Paisah tersenyum Badannya tetap bergoyang Membawa jajanan Ke pasar Emplang, Kolong-kolong, Tepung ketan g...