Puisi 34

Paisah

Dia adalah
Ibu dari teman kecilku
Dia adalah
Ibu yang tangguh
Dia adalah
Ibu yang berdaya

Di mataku dia cantik
Dia selalu tersenyum dengan tulus
Buatku
Dia manis
Kata berbumbu tawa
Yang selalu kudengar saat dia bicara

Lihat,
Seluruh anggota tubuhnya bergoyang
Saat dia berjalan
Badannya yang besar
Semakin tampak kokoh
Saat menuju ke pasar
Menyunggi barang dagangan

Dan senyum itu
Tak pernah tanggal dari wajahnya
Paisah,
Perempuan sederhana penuh perjuangan

Terbayang
Berapa waktu silam
Dia tegar
Saat suaminya ditemukan
Gantung diri di dekat kuburan

Sebelum itu
Dia tabah,
Sabar,
Tidak protes
ketika suaminya menjadi paranoid
ketakutan
minta ditemani
ke mana pun pergi
bahkan saat ke kamar mandi

Paisah tidak bingung.
Tetap tersenyum
Pun ketika ia ditinggal mati ..
Kata orang
Suaminya telah melihat orang "dipetrus"


Paisah tersenyum
Badannya tetap bergoyang
Membawa jajanan
Ke pasar

Emplang,
Kolong-kolong,
Tepung ketan goreng dilumur gula
Tiada yang menandingi buatannya
Jajan kesukaan adikku
sekolah TK

Paisah
Tetap tersenyum
Pun saat mendengar
Anaknya jatuh
Dari kepala kerbau
Yang tanduknya
Menusuk paha
Anaknya naik dari depan
si kerbau

Paisah ...
Yang sederhana
aku mengenangmu ...
Keberadaanmu
Pengaruhmu
aku belajar darimu
Sepahit hidup
Yang kau jelang
Senyum yang kau dendang
Lihat,
Sekarang
Anak cucumu,
Mengenangmu
Dalam kegembiraan

Comments

Popular posts from this blog

Puisi 144

Puisi 146

Puisi 147