Puisi 41
Kamis 3 Februari 2011
Ke mana kita?
Ayo makan bakso bakar?
Ah, tidak, lebih baik kita nyekar
Rindu dalam yang kian bergetar.
Dan,
Berangkatlah
Berlima
Empat nyawa pada si merah yang setia
Yakin aku,
Objek menarik wisatawan penggemar foto
Cerminan sepeda motor di Indonesia
(gila, sampai hari ini, mereka menunggu 5-6 nyawa sekaligus)
Jalanan sepi
Serasa milik sendiri
Persis seperti saat Idul Fitri
Apalagi karena masih pagi
Berayun kita di perahu
Nahkoda muda penuh bertato
Ia tawarkan
Lima ribu
Terhanyut kita
Dalam rindu
Mengalun doa
Dalam syahdu
Tiga keluarga
Berenang
Setelah lompat dari perahu
Kulit coklat mengkilap
setelah lompat dari perahu
Apa dicari?
Kerang dengan kaki
Mereka gembira
Mereka tertawa
Mereka bilang
Saat ke tepi,
Baju kita pasti sudah kering
(aku yakin, mereka tak pusing dengan ruang ganti
atau air tawar pembasuh asin)
Kita pulang
Dua jam kemudian
Aduhai tak seperti tadi
Jalanan ramai, penuh antri
Sepanjang jalan
Tak kulewatkan
Tebu madu manis
Sarinya
Berjejer rapi
Penunggunya
Pemuda
Ambang dua puluhan
Sepanjang jalan
Tak kulewatkan
Ada nuansa
Silaturahmi
Bagi keluarga
Yang lebih, tercukupi
Di persimpangan
Kita berhenti
Mata manja
Berteriak nurani
Gila,
kuhitung 10 Harrier
Berderet rapi
Siapa di dalamnya?
Ah, pertanyaan yang tak perlu asumsi
Sementara anak kecil berlari
Jajakan koran
Apa betul cuma begini?
Sejuta alasan pernah kudengar
Bahkan mungkin ku buat sendiri
Mereka lebih rajin
Mereka lebih tekun
Di seberangnya
Lebih malas
Bekerja seadanya
Tak beretos
Tak berkualitas
Sungguhkah?
Apa bukan karena jaringan?
Apa bukan karena eksklusif cap nepotis?
Ada berapa Lan Fang?
Berapa Sindhu?
Sebanyak apa Gie?
Atau
Ada berapa Gus Dur?
Berapa Sandyawan?
Sebanyak apa Mangun?
Apakah jawabannya sama?
Tiga persen?
Terus, aku mau apa?
Ke sekolah elit,
Lihat gurunya, lihat CSnya
Ke Mall mewah
Lihat Jukir, lihat Satpamnya
Ke gereja megah
Lihat Tatib lihat Romonya
Jurang itu ada dan makin dalam
Kurasa, inilah waktunya
Naga bangkit dari lautan
Bahkan ekornya menyapu
Hampir separo bintang di langit
Ke mana kita?
Ayo makan bakso bakar?
Ah, tidak, lebih baik kita nyekar
Rindu dalam yang kian bergetar.
Dan,
Berangkatlah
Berlima
Empat nyawa pada si merah yang setia
Yakin aku,
Objek menarik wisatawan penggemar foto
Cerminan sepeda motor di Indonesia
(gila, sampai hari ini, mereka menunggu 5-6 nyawa sekaligus)
Jalanan sepi
Serasa milik sendiri
Persis seperti saat Idul Fitri
Apalagi karena masih pagi
Berayun kita di perahu
Nahkoda muda penuh bertato
Ia tawarkan
Lima ribu
Terhanyut kita
Dalam rindu
Mengalun doa
Dalam syahdu
Tiga keluarga
Berenang
Setelah lompat dari perahu
Kulit coklat mengkilap
setelah lompat dari perahu
Apa dicari?
Kerang dengan kaki
Mereka gembira
Mereka tertawa
Mereka bilang
Saat ke tepi,
Baju kita pasti sudah kering
(aku yakin, mereka tak pusing dengan ruang ganti
atau air tawar pembasuh asin)
Kita pulang
Dua jam kemudian
Aduhai tak seperti tadi
Jalanan ramai, penuh antri
Sepanjang jalan
Tak kulewatkan
Tebu madu manis
Sarinya
Berjejer rapi
Penunggunya
Pemuda
Ambang dua puluhan
Sepanjang jalan
Tak kulewatkan
Ada nuansa
Silaturahmi
Bagi keluarga
Yang lebih, tercukupi
Di persimpangan
Kita berhenti
Mata manja
Berteriak nurani
Gila,
kuhitung 10 Harrier
Berderet rapi
Siapa di dalamnya?
Ah, pertanyaan yang tak perlu asumsi
Sementara anak kecil berlari
Jajakan koran
Apa betul cuma begini?
Sejuta alasan pernah kudengar
Bahkan mungkin ku buat sendiri
Mereka lebih rajin
Mereka lebih tekun
Di seberangnya
Lebih malas
Bekerja seadanya
Tak beretos
Tak berkualitas
Sungguhkah?
Apa bukan karena jaringan?
Apa bukan karena eksklusif cap nepotis?
Ada berapa Lan Fang?
Berapa Sindhu?
Sebanyak apa Gie?
Atau
Ada berapa Gus Dur?
Berapa Sandyawan?
Sebanyak apa Mangun?
Apakah jawabannya sama?
Tiga persen?
Terus, aku mau apa?
Ke sekolah elit,
Lihat gurunya, lihat CSnya
Ke Mall mewah
Lihat Jukir, lihat Satpamnya
Ke gereja megah
Lihat Tatib lihat Romonya
Jurang itu ada dan makin dalam
Kurasa, inilah waktunya
Naga bangkit dari lautan
Bahkan ekornya menyapu
Hampir separo bintang di langit
Comments
Post a Comment