Puisi 112
Pagi
Memanggilku lembut
Perlahan
Terbuka kelopak bola mata
Ah, kau telah tiba
Hening
Kosong
Kerjapan
Sedetik, dua detik
Aku terjaga
Tenggelam kembali pada bagian
Belum terselesaikan
Ah, asa di sana
Betapa tangguh
Menyerap segenap rasa
Pagi menjelma buana
Merengkuh rapuh raga
Susupkan pesona
Yang selalu tak biasa
Di keheningan halus bernuansa
Sejernih embun menetes
Basuh segenap resah dan gulana
Pagi
Kau selalu berima
Memberi makna
Bahwa aku tak kuasa dan bukan segala
Dalam lemah menggapai darma
Kuasa ada di sana dalam dengung syukur
Menyentuh Takhta Nirwana
Memanggilku lembut
Perlahan
Terbuka kelopak bola mata
Ah, kau telah tiba
Hening
Kosong
Kerjapan
Sedetik, dua detik
Aku terjaga
Tenggelam kembali pada bagian
Belum terselesaikan
Ah, asa di sana
Betapa tangguh
Menyerap segenap rasa
Pagi menjelma buana
Merengkuh rapuh raga
Susupkan pesona
Yang selalu tak biasa
Di keheningan halus bernuansa
Sejernih embun menetes
Basuh segenap resah dan gulana
Pagi
Kau selalu berima
Memberi makna
Bahwa aku tak kuasa dan bukan segala
Dalam lemah menggapai darma
Kuasa ada di sana dalam dengung syukur
Menyentuh Takhta Nirwana
Comments
Post a Comment