Puisi 100
Mohon Doa
Betapa tersaji kisah berkelindan
Menjalin pada perjalanan
Aku rasa, pada kalianlah aku mohon doa ...
Sri,
Nama agung pemberian
Perlambang kesuburan
Kelimpahan
Jua padamu
Kesuburan sabarmu menyentuh banyak hati
Kerelaan memberi
ketulusan pada tetes keringat
Sentuhan halus penghilang penat
Ketabahan pada pendawa
Kesetiaanmu berbalas amarah dan serakah
Ah, betapa engkau meneladan pada hati
Sri, padamu aku mohon doa.
Marpik,
Engkau hadir
Dengan rambut putih berurai
Pada usia mudamu yang belum juga empat puluh
Ketidakpedulianmu pada rasa malu
Keinginanmu untuk entas
Dengan meneteskan keringat
Kerja kerasmu, Marpik
Pun berbalas dusta
Tak urung kesombongan dan ketakprigelan
Cintamu untuk dwipangga
Mengalunkan angan dan mimpimu
Untuk tetap menyala dan membubung
Padamu, aku pun mohon doa
Likah,
Nama elok kudengar darimu
Tak seelok liku hidupmu
Ketekunanmu berbuah penyangkalan
Meninggalkanmu pada nestapa
Buah cinta yang semata
Buah peluhmu, Likah
Bahkan kau hanya diam
Menyimpan dalam hatimu
Perbuatan itu
Retas-retas batas hidupmu
Likah, padamu pun aku mohon doa
Doa
Bagi lalu hidupku
Pun dengan kisah-kisah tak kalah pilu
Mohon doa aku
Padamu
Betapa tersaji kisah berkelindan
Menjalin pada perjalanan
Aku rasa, pada kalianlah aku mohon doa ...
Sri,
Nama agung pemberian
Perlambang kesuburan
Kelimpahan
Jua padamu
Kesuburan sabarmu menyentuh banyak hati
Kerelaan memberi
ketulusan pada tetes keringat
Sentuhan halus penghilang penat
Ketabahan pada pendawa
Kesetiaanmu berbalas amarah dan serakah
Ah, betapa engkau meneladan pada hati
Sri, padamu aku mohon doa.
Marpik,
Engkau hadir
Dengan rambut putih berurai
Pada usia mudamu yang belum juga empat puluh
Ketidakpedulianmu pada rasa malu
Keinginanmu untuk entas
Dengan meneteskan keringat
Kerja kerasmu, Marpik
Pun berbalas dusta
Tak urung kesombongan dan ketakprigelan
Cintamu untuk dwipangga
Mengalunkan angan dan mimpimu
Untuk tetap menyala dan membubung
Padamu, aku pun mohon doa
Likah,
Nama elok kudengar darimu
Tak seelok liku hidupmu
Ketekunanmu berbuah penyangkalan
Meninggalkanmu pada nestapa
Buah cinta yang semata
Buah peluhmu, Likah
Bahkan kau hanya diam
Menyimpan dalam hatimu
Perbuatan itu
Retas-retas batas hidupmu
Likah, padamu pun aku mohon doa
Doa
Bagi lalu hidupku
Pun dengan kisah-kisah tak kalah pilu
Mohon doa aku
Padamu
Comments
Post a Comment